Lukman Hakim Saifuddin
  • Home
  • Figure
  • News
  • Opinion
  • Election
  • Teladan
  • Buku

Bangsa Indonesia Kehilangan Pegangan?

Written by: Redaktur

Metrotvnews.com, Palembang: Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bangsa Indonesia sekarang ini seolah-olah kehilangan pegangan akibat era globalisasi dan kondisi kehidupan masyarakat semakin transparan. Bahkan, dengan semakin majunya teknologi komunikasi sehingga kebudayaan luar sulit untuk disaring, kata Lukman saat membuka pelatihan empat pilar kebangsaan untuk pelatih di Palembang, Kamis (21/2) malam.

Pelatihan empat pilar kebangsaan untuk pelatih itu diikuti seratus peserta antara lain dari organisasi keagamaan, dan unsur perguruan tinggi se-Sumsel.

Menurut Lukman, dengan era yang moderenisasi itu sehingga warisan pendahulu seperti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika seakan-akan hilang dari ingatan. Memang, warisan leluhur terdahulu bila dibicarakan dalam era reformasi sekarang ini seolah-olah menjadi alergi, padahal itu sebagai dasar dalam kehidupan.

Sehubungan itu MPR terus melaksanakan sosialisasi empat pilar kebanggsaan yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan RI (NKRI).

Pilar atau tiang kehidupan tersebut perlu terus disosialisasikan supaya kehidupan berbangsa dan benegara semakin kuat. Selain itu penanaman jiwa Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI untuk lebih menjaga hubungan sesama anak bangsa, ujar dia.

Oleh karena itu melalui kegiatan sosialisasi diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat secara sadar memahami nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengatakan, memang kondisi bangsa sekarang ini sudah memprihatinkan karena nilai kehidupan seperti gotong royong jarang dilakukan.

Kesemuanya itu antara lain disebabkan era reformasi dan globalisasi yang sudah tidak ada batas. Namun, Pemerintah Provinsi Sumsel terus menjalankan dan menanamkan empat pilar kebangsaan itu, dengan melaksanakan berbagai program yang menyentuh kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sumsel terus berupaya memberantas kebodohan melalui sekolah gratis dan meningkatkan kesehatan dengan program berobat gratis. Hal ini karena kebodohan merupakan salah satu musuh agama sehingga itu harus terus dilaksanakan, kata dia.

Selain itu pihaknya terus meningkatkan kualitas kehidupan dengan selalu menjaga hubungan termasuk antar umat bergama, kata dia. (Antara/Agt)

Kamis, 21 February 2013 | 22:52 WIB

Masyarakat Rindu Ada GBHN Lagi

Written by: Redaktur

JAKARTA - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Lukman Hakim Saifuddin mengungkap kecemasannya tentang pemikiran bahwa visi dan misi presiden yang disampaikan saat berkampanye politik bisa dijadikan sebagai acuan atau pedoman bagi bangsa ini untuk bergerak.

"Saya khawatir visi dan misi bangsa ini digantungkan hanya kepada visi dan misi presiden yang disampaikan saat kampanye calon presiden. Bagaimana pun, hasil pemikiran bersama dengan cara melibatkan rakyat jauh lebih baik ketimbang hasil pemikiran seseorang dan kelompoknya," kata Lukman Hakim Saifuddin, dalam Dialog Pilar Negara bertema "GBHN, Urgensi dan Relevansi Di Masa Kini", di Perpustakaan MPR, komplek Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (18/2).

Praktek menjadikan visi dan misi presiden sebagai pedoman bangsa ini bergerak, lanjut Lukman, secara terselubung sudah berlangsung semenjak reformasi terjadi.

Hasilnya, setiap warga negara bahkan penyelenggara negara pun tidak tahu pasti kemana arah bangsa ini bergerak. "Di tengah kebingungan itu, membangkitkan kerinduan masyarakat agar bangsa ini kembali berjalan dengan sebuah pedoman yang jelas sejenis GBHN," kata Lukman.

Di tengah kebingungan masyarakat tersebut, berbagai praktek pengelolaan sumber-sumber kekayaan negara berlangsung secara sangat tidak adil utamanya dari sisi pengelolaan ekonomi dan dan terancamnya kerukunan antar-umat beragama. "Apakah ini salah satu efek dari visi dan misi presiden berkuasa? Ini membutuhkan sikap bersama untuk menjawabnya," kata Lukman.

Lebih lanjut dikatakannya, sesuai dengan perkembangan demokrasi yang terjadi di Indonesia lanjut politisi PPP itu, memang tidak ada lagi peluang bagi MPR untuk membuat semacam GBHN itu.

Hal itu terjadi karena seluruh kewenangan negara sudah terdistribusi ke lembaga-lembaga negara yang ada di eksekutif, legislatif dan yudikatif baik yang ada di pusat maupun daerah.

"Pembagian kewenangan negara itu ternyata tidak serta-merta menjadikan bangsa ini lebih baik. Berbagai masalah baru sebagai akibat dari pembagian kewenangan negara ke daerah-daerah telah menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial yang cukup signifikan," tegas Lukman.

Masalah kewenangan izin penambangan kekayaan bumi misalnya. Menurut Lukman saat ini tengah terjadi eksploitasi tambang habis-habisan yang sebagian besar untuk kepentingan industri asing sementara regulasi tambang yang lebih berpihak terhadap kepentingan bangsa dan negara ini tidak kunjung selesai. (fas/jpnn)

Senin, 18 Februari 2013, 21:06:00

Lukman Hakim Saifuddin: rakyat rindu GBHN

Written by: Redaktur

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin mengatakan sejak Undang-Undang Dasar 1945 diamandemen, rakyat Indonesia tidak punya persepsi yang sama terhadap tujuan bernegara, sehingga ada semacam kerinduan atas Garis-garis Besar Haluan Negara sebagai penunjuk arah.

"Ada semacam kerinduan GBHN yang pernah hidup pada era Soeharto, digelorakan kembali. MPR, yang dahulu bertugas menetapkan GBHN, harus memulainya," kata Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin dalam diskusi bertajuk "Urgensi dan Relevansi GBHN Masa Kini" di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta, Senin.

Diskusi Pilar Negara yang diselenggarakan oleh MPR menghadirkan Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifudin, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Politik Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris dan staf pengajar Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf.

Lebih lanjut Lukman menyatakan, kerinduan akan adanya GBHN semakin membesar karena realitas kehidupan semakin kompleks.

"Banyak sekali persoalan bangsa karena perubahan yang cepat diperlukan acuan bersama terhadap arah tujuan negara," katanya.

Menurut politisi PPP ini, setelah MPR tidak memiliki kewenangan, siapa yang merumuskan lagi. Menurut Lukman, presiden harus merumuskan arah perjalanan bangsa dan MPR bisa saja ditugasi UU untuk menyiapkan rumusan GBHN-nya.

"MPR memiliki pemahaman untuk menangkap semangat konstitusi. Bisa saja UU menugaskan MPR menyiapkan GBHN dan yang menetapkan dan mengesahkannya adalah DPR bersama presiden," kata Lukman.

Sementara Syamsuddin Haris mengatakan, ketegasan pemimpin atau presiden akan menentukan kemana arah bangsa ini akan dibawa, baik di bidang hukum, politik, ekonomi, dan sebagainya. Karena itu tambahnya tidak perlu lagi apa yang disebut GBHN, karena sudah ada Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang dirumuskan melalui visi dan misi capres terpilih dengan partai dan berbagai elemen masyarakat.

"Kebetulan Presiden SBY tak tegas, yang dibuktikan dengan 50 persen lebih instruksinya tidak efektif dan tak dijalankan, maka tak relevan ada isu perlu GBHN," katanya.

Menurut Syamsuddin, GBHN ini bukan solusi, tapi desain pemerintah hasil pemilu perwakilan ini memang tak efektif. Mestinya tidak efektifnya hasil pemilu 2009 itu akan menghasilkan pemerintahan, legislatif, dan partai politik yang tidak koruptif, melainkan sebuah pembangunan yang bermuara terhadap terwujudnya keadilan, kesejahteraan, pemerintahan yang bersih, dan stabilitas politik serta keamanan nasional.

Sedangkan Maswadi Rauf juga meyakinkan jika RPJPN itu sudah lebih lengkap dari GBHN. Hanya saja, kewenangan MPR RI memang dikurangi; diantaranya tak bisa langsung meng-impecahment atau memberhentikan presiden kalau melanggar RPJPN.

"Tapi, itu sebagai konskeuensi perubahan sistem politik. Oleh sebab itu ke depan dalam setiap pemilu, capres dan kepala daerah tak boleh mengeluarkan visi dan misi program pembangunannya yang menyimpang dari RPIPN. Capres dan kepala daerah wajib membaca RPJPN 20 tahunan itu sebelum membuat visi dan misinya," katanya. #(J004/Z003)

Editor: Ruslan Burhani
Senin, 18 Februari 2013 22:25 WIB

Page 133 of 185

  • 128
  • 129
  • 130
  • 131
  • 132
  • 133
  • 134
  • 135
  • 136
  • 137

Toko Buku

flyer buku cet ke 15

Pesan Langsung di Sini. Tersedia di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.