- Written by: Redaktur
Berdasarkan ketentuan Pasal 15 Ayat (1) huruf (e) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, Pimpinan Majelis ditugasi mengkoordinasikan Anggota MPR untuk memasyarakatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kepada seluruh komponen bangsa Indonesia. Oleh Pimpinan MPR RI, tugas memasyarakatkan UUD NRI Tahun 1945 ini kemudian disandingkan juga dengan pemasyarakatan pilar utama penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara lainnya, yaitu; Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kegiatan pemasyarakatan ini kemudian lebih dikenal dengan sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.
Sebagai generasi penerus bangsa mahasiswa mempunyai peran sentral sebagai agen perubahan dan penggerak pembangunan bangsa. Dengan kematangan akademis yang dimiliki, mahasiswa juga dapat menjadi inspirator bagi segenap komponen bangsa dan mempunyai peran yang sangat strategis di dalam membangun budaya sadar berkonstitusi. Hal inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan sosialisasi empat pilar melalui outbond terfokus bagi mahasiswa.
Bertempat di Hotel Orchid Batu Malang Jawa Timur, variasi model Sosialisasi empat pilar dengan menggunakan metode outbond ini dilaksanakan marathon selama 3 hari (29 Juni hingga 1 Juli 2012).
Acara yang melibatkan 100 orang mahasiswa dari 23 Universitas yang tersebar di Jawa Timur, dibuka oleh Pimpinan MPR RI, Lukman Hakim Saifuddin. Dalam sambutannya dinyatakan pemuda sebagai ujung tombak gerak langkah masa depan bangsa, dapat menunjukkan jiwa kepemimpinannya dalam setiap aspek dan sendi kehidupan bangsa. Pemuda Indonesia harus menjadi garda terdepan bagi negaranya. Karena Negara ini membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki semangat kebangsaan, toleransi, intelektualitas serta patriotisme. Berkenan hadir pula dalam acara pembukaan yang langsung diisi dengan kegiatan pretest, rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito.
Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan sosialisasi dengan metode outbond, adalah agar bahwa para generasi muda nantinya tidak hanya sekedar memiliki kemampuan secara keilmuan, akan tetapi bertambah kepercayaan dirinya, serta memiliki kreatifitas, sportifitas, serta rasa persaudaraan yang tinggi. Atas dasar mencapai tujuan bersama, motivasi dalam kerjasama kelompok dan sikap pantang menyerah dengan sendirinya akan terbangun karena penyampaian materi empat pilar yang selama ini hanya di dalam ruangan akan terganti dengan kegiatan outbond di alam terbuka.
MPR RI, Sabtu, 30/06/2012 16:51
- Written by: Redaktur
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - MPR RI tidak dalam posisi menyetujui kebijakan Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mensosialisasikan kondom untuk kalangan remaja.
"Kebijakan Menkes itu menunjukkan seringnya kita terjebak menyelesaikan suatu masalah secara instan dan jalan pintas," kata Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin kepada Tribunnews.com, Minggu (24/6/2012).
Alih-alih ingin menuntaskan satu masalah, menurut Lukman yang didapat justru banyak masalah. "Sosialisasi kondom bagi remaja di tengah minimnya pendidikan agama, moral, dan reproduksi sehat, maraknya tayangan pornografi, keterbatasan sarana olahraga dan berkesenian, perlindungan dan penegakan hukum yang lemah, justru akan menyuburkan praktek seks bebas di kalangan remaja yang kini kian permisif," ujar Wakil Ketua Umum PPP ini.
Lebih jauh, menurut Lukman, kebijakan itu bisa menjadi pembenar bahwa Pemerintah melegalkan praktek seks bebas.
"Persoalan kehidupan seks remaja kita itu lahir dari beragam sebab. Dari yang dikarenakan murni ketidaktahuan, perkara pergeseran nilai, kesulitan ekonomi, keterpengaruhan lingkungan, sampai karena keterpaksaan akibat sindikasi kejahatan," ujarnya.
Lanjut Lukman pemerintah haruslah melihat dan mengatasi persoalan tersebut secara lebih menyeluruh dengan menempuh berbagai pendekatan dan melibatkan banyak kalangan.
"Pemerintah harus didukung untuk mampu laksanakan kebijakan yang lebih terintegralisasi dan komprehensif," katanya. (Aco)
Tribunnews.com - Minggu, 24 Juni 2012 08:59 WIB
- Written by: Redaktur
Sejak dimulainya era reformasi, menyebabkan masuknya nilai-nilai kehidupan yang sangat beragam. Perkembangan teknologi yang semakin modern menjadikan masyarakat Indonesia berubah. ”Perubahan cara pandang/mindset/paradigma dari masyarakat inilah yang juga masuk dalam tatanan nilai”. Hal ini dikemukakan Lukman Hakim Saifuddin dalam membuka pelatihan untuk pelatih/Training of Trainers (TOT) di Pangkalpinang, Provinsi Kep. Bangka Belitung, Jumat 15/6.
Lebih lanjut Lukman mengungkapkan perubahan cara pandang tersebut menyebabkan perlunya untuk sekedar mengingatkan kembali akan nilai-nilai dasar bangsa Indonesia yaitu pancasila. Menurut Lukman Pelatihan yang diselenggarakan MPR ini tidaklah untuk menghadirkan sesuatu yang baru, tetapi dengan mengingatkan sesuatu yang telah kita miliki yaitu empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (Pancasila, UUD NRI tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tungal Ika). Untuk memahami perbedaan yang sangat beragam tersebut dimana lebih dari 240 juta jiwa penduduk, bahasa yang ratusan jumlahnya serta beraneka ragam budaya dan juga letak geografis yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, para pendiri bangsa berhasil merumuskan suatu yang yang menjadi pengikat perbedaan bangsa dengan suatu istilah dengan nama pancasila. Meski serbuan budaya maupun nilai-nilai yang masuk ke Indonesia begitu banyak dan bervariasi seiring dengan perkembangan teknologi dan kemajuan jaman, namun Lukman tetap optimis bahwa bangsa Indonesia akan tetap memegang nilai luhur pancasila. Sehingga nilai-nilai pancasila tetap menjadi pegangan ataupun pedoman masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Acara pembukaan pelatihan ini dihadiri oleh wakil gubernur Prov. Kep. Bangka Belitung H. Rustam Effendi , Sekda, Kakanwil Kementrian Agama Provinsi Kep. Bangka Belitung, serta anggota-anggota MPR selaku narasumber. Menurut Muhammad Rizal selaku ketua panitia acara mengungkapkan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 100 orang peserta yang terdiri dari 50 orang guru PKn, 20 orang dosen serta 30 orang dari organisasi keagamaan, kemasyarakatan serta kepemudaan. Pelatihan ini berlangsung mulai tanggal 15 – 19 Juni 2012. Dan ini merupakan acara TOT yang ke-9 yang telah dilaksanakan oleh MPR ditahun ini, imbuhnya. Menurut Muhammad Rizal pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang utuh dan menyeluruh kepada peserta mengenai empat pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
MPR, Jumat, 15/06/2012 20:08
