Lukman Hakim Saifuddin
  • Home
  • Figure
  • News
  • Opinion
  • Election
  • Teladan
  • Buku

Karlina Supelli: Pembahasan Pelanggaran HAM Masa Lalu Bukan Politisasi

Written by: Redaktur

Kabar24.com, JAKARTA— Aktivis hak azasi manusia (HAM) Karlina Supelli menilai perjuangan korban dan keluarga korban pelanggaran HAM semakin berat.

"Dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa perjuangan korban, dan keluarga korban pelanggaran HAM semakin berat. Bukan saja berhadapan dengan lupa dan ketidaktahuan generasi sekarang, tetapi di atas lupa dan ketidaktahuan itu membuat mereka (pelanggar HAM) menjadi pongah," kata Karlina saat memberi kuliah umum tentang HAM yang diselenggarakan oleh Omah Munir, di Jakarta, Rabu (2/7/2014) malam.

Karlina yang dipilih oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk menyampaikan pidato kebudayaan pada 2013 lalu mendorong agar masyarakat Indonesia melawan lupa atas sejumlah kejadian pelanggaran HAM. SIMAK: PRABOWO VS JOKOWI: Jadwal Pemungutan Suara di Luar Negeri, 4-6 Juli

"Mengapa kita perlu mengingat? Dalam sejarah Indonesia, tidak pernah ada penghukuman terhadap pelanggaran HAM berat berhasil diusut, paling hanya sampai pelaksananya," ujar Karlina.

"Padahal hakekat penyelesaian kasus pelanggaran HAM, terkait tiga butir, yakni pengingkaran HAM seperti pembunuhan, penculikan, pemerkosaan dan lainnya, lalu penolakan terhadap korban dan pembiaran pelaku, semua tindakan itu dikawal penggelapan ingatan," tambahnya.

Dia menambahkan perjuangan HAM tidak bisa dikaitkan dengan politisasi HAM terkait kampanye pemilihan presiden (pilpres).

"Dalam cuaca politik sekarang ini, setiap perbincangan HAM masa lalu, akan dicurigai politisasi HAM. Tuduhan itu tidak mengena. Jauh sebelum kampanye pilpres, para korban tidak pernah berhenti berjuang. Mereka melakukan aksi, memberikan surat kepada pemerintah namun tidak pernah digubris," kata Karlina.

Suciwati

Sementara itu, Suciwati, istri dari aktivis HAM Munir, mengatakan banyak generasi saat ini yang tidak mengetahui kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi.

"Kami melihat banyak sekali anak-anak yang tidak tahu kasus pelanggaran HAM. Bagi kami sebagai aktivis HAM, ini menjadi pekerjaan rumah besar. Ketika mendirikan Omah Munir kami berharap bisa membawa perjuangan HAM menjadi gaya hidup mereka, maka salah satu pendekatannya dengan kesenian," jelas Suciwati.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang turut memberi kuliah umum mengatakan ada tiga hal yang menjadi tantangan persoalan HAM, yakni masalah pemahaman yang disebutnya sebagai masalah klasik.

Menurutnya ada dua kutub ekstrem terkait HAM. Ekstrem pertama bahwa HAM bebas tanpa batas.

"Berdasarkan pengalaman, saya masih menemui cara pandang seperti ini, sehingga tak ada satu pun yang bisa membatasi hak itu. Ini ekstrem, karena kebebasan yang kita miliki selalu dibatasi kebebasan orang lain," jelasnya.

Selanjutnya, kata Lukman, pemahaman merasa diri paling benar atau begitu fanatik meyakini keyakinan yang dimiliki, dan merasa bisa memaksakan keyakinan yang dimiliki kepada orang lain.

"Tantangan persoalan HAM lainnya adalah terkait regulasi dan penegakkan hukum," ujar mantan Wakil Ketua MPR itu. (Kabar24.com)

Newswire Kamis, 03/07/2014 10:09 WIB

Menag Panjatkan Doa Bagi Almarhum Munir

Written by: Redaktur

JAKARTA | DNA - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak masyarakat dapat terus mengingat semangat Munir Said Thalib. Menurutnya, hasil kerja keras Munir telah berhasil membangun kesadaran terhadap tegaknya harkat manusia dalam Hak Asasi Manusia (HAM).

“Maka marilah memberikan doa bagi almarhum Munir. Agar selalu diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan. Al-Fatihah,” kata Menag mengawali kuliah umum HAM di tengah penggiat HAM bertema Melawan Lupa Omah Munir.

Menag mengatakan, perjuangan Munir menegakan HAM di Indonesia sangatlah luar biasa. Pemikirannya telah menyumbang banyak hal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kuliah umumnya, Menag menegaskan penegakan HAM sebagai bagian menjaga harkat manusia juga sudah lama diperkenalkan dalam ajaran Islam, sehingga penegakan HAM pun menjadi bagian dari nilai-nilai Islam. “Tentu semua agama pun memberikan tempat sama bagi harkat manusia,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia pun, sambung Menag, sangat menghormati penegakan HAM. Itu terbukti dari penempatan HAM dalam konstitusi. Bahkan dalam berbagai aturan lain yang menjadi turunan konstitusi.(dna/kmg)

Menteri Agama : Belajar HAM Dari Almarhum Munir

Written by: Redaktur

SURYA Online, JAKARTA - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengaku banyak belajar tentang hak asasi manusia (HAM) dari almarhum Munir, meski wawasannya tentang hal itu hingga kini masih terbatas.

"Almarhum Munir bukan sekedar teman, tetapi juga sahabat yang banyak memberi pemahaman tentang HAM kepada saya semasa hidupnya," kata Lukman sebelum memberikan kuliah umumnya di hadapan sejumlah para penggiat HAM di Auditorium Langen Palikrama, Jakarta Pusat, Rabu (2/7/2014) malam.

Pemikiran Munir Said Thalib banyak mewarnai penempatan HAM dalam konstitusi.

Kerja keras Munir telah berhasil membangun kesadaran terhadap tegaknya harkat manusia dalam HAM.
     
Tampil mengenakan baju batik tanpa songkok di atas podium, Menag di hadapan para penggiat HAM kembali menegaskan bahwa dirinya tak cukup banyak memahami HAM.

Wawasannya dalam hal ini sangat terbatas. Karena itu jika materi yang disampaikan dianggap sebagai kuliah umum, menurut dia, sesungguhnya tidak tepat.

Namun lebih tepat disebut sebagai sharing atau berbagi pengalaman.
     
Ia menambahkan, sebelum menghadiri acara tersebut, sepekan sebelumnya didatangi istri mendiang aktivis HAM Munir, Suciwati.
     
Menag mengatakan menyanggupi permintaan tersebut. Terlebih almarhum Munir memiliki jasa besar dalam pemahaman HAM di Tanah Air. (ant)

Kamis, 3 Juli 2014 11:19 WIB

Page 73 of 185

  • 68
  • 69
  • 70
  • 71
  • 72
  • 73
  • 74
  • 75
  • 76
  • 77

Toko Buku

flyer buku cet ke 15

Pesan Langsung di Sini. Tersedia di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.