Lukman Hakim Saifuddin
  • Home
  • Figure
  • News
  • Opinion
  • Election
  • Teladan
  • Buku

Beri Ruang Bagi Akademisi, AICIS XIV Resmi Dibuka

Written by: Redaktur

REPUBLIKA.CO.ID, BALIKPAPAN -- Menteri agama Lukman Hakim Saifuddin membuka secara resmi Annual International Conference On Islamic Studies (AICIS) ke XIV di Balikpapan, Kalimantan Timur. AICIS tahun ini mengangkat tema Merespon Tantangan Masyarakat Multikultural: Kontribusi Kajian Islam Indonesia.

Ia mengatakan, diangkatnya isu multikultularism dalam tema seminar kali ini dikarenakan kehidupan global dan peradaban dunia harus memiliki makna menyeluruh terkait mulkultural.

"Saya menyambut gembira dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas penyelenggaran AICIS sebagai pertemuan ilmiah berskala internasional bagi para akademisi dan cendekiawan.

Indonesia punya pengalaman panjang bagaimana multikultukarisme hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Jadi kesadaran untuk bagaimana hidup bersama-sama di tengah perbedaan yang ada di hampir semua sektor kehidupan," ujar Lukman Hakim Saifuddin kepada Republika, Jumat (21/11).

Ia menjelaskan, dinamika masyarakat Indonesia di mata global dengan segala permasalahannya tidak menapikan peran para ilmuwan dan cendikiawan muslim sebagai pembawa visi Islam dalam mencerahkan peradaban.

Menurutnya, studi Islam yang dikembangkan perguruan tinggi Islam telah memberi peran yang besar dalam membentuk wajah Islam di indonesia. Sehingga diperlukan Kontribusi dan peran strategis lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Kemenag dalam upaya menciptakan pemahaman agama yang rahmamatan Lil Alamin.

Sementara itu, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengatakan AICIS merupakan acara tahunan yang memberi ruang kepada para intelektual dan akademisi untuk melakukan aktualisasi akademik. Para akademisi yang mengajukan pendaftaran makalah harus melewati beberapa penilaian seperti orisinalitas karya dan memiliki korelasi yang jelas dengan tema konfrensi.

Dosen dari IAIN Cirebon yang merupakan peserta AICIS, Rosita mengatakan AICIS memberi kesempatan bagi para akademisi untuk saling mengetahui perkembangan isu dari daerah dan berbagai disiplin ilmu yang ada di Indonesia. Selain itu, para akademisi juga dapat mengetahui perkembangan keilmuan islam di dunia. "Bagi saya ini peluang, dalam melihat wajah islam serta untuk melihat fenomena dan menjawab kajian keislaman itu sendiri," katanya.

Tahun ini, AICIS diikuti oleh 1600 peserta dari berbagai perguruan tinggi Islam negeri dan swasta yang ada di indonesia. Sedangkan jumlah paper yang dipresentasikan sebanyak 160. AICIS tahun ini juga menghadiri narasumber dari lima benua yakni Asia, Afrika, Eropa, Amerika dan Australia.


Sabtu, 22 November 2014, 08:29 WIB

Muslim Indonesia Mesti Jadi Penjaga Perdamaian Dunia

Written by: Redaktur

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsep konsolidasi demokrasi multikultural yang berkembang khususnya di daerah yang dilanda konflik, selalu diupayakan untuk perancangan resolusi konflik.

Makanya, perhelatan World Peace Forum (WPF) kelima yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Cheng Ho Multiculture Trust of Malaysia dan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) pada 20-23 November 2014 menjadi penting guna mengupayakan perdamaian dunia.

Menanggapi misi utama WPF, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut, semua warga yang berbangsa dan bernegara wajib menjaga ketertiban dunia dan menebarkan kedamaian.

"Dan umat Islam Indonesia berpeluang besar menjadi model perdamaian dunia," jelas menag Kamis (20/11) malam di gedung Nusantara IV DPR RI, sebelum acara WPF dibuka.

Dikatakannya pula, kerukunan dan perdamaian di bumi Indonesia dan dunia mesti dijaga, sebab hal tersebut merupakan amanat konstitusi sebagaimana disebut dalam alenia keempat UUD 1945.

Acara pembukaan WPF sekaligus merayakan milad Muhammadiyah ke-102 dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya Islam.

Hadir dalam acara pembukaan ini Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Zulkifli Hasan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan Ketua Cheng Ho Multiculture Trust of Malaysia, Tan Sri Lee Kim Yew dan  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua Pelaksana WPF, Andar Nubowo menyebut WPF dihadiri 200 peserta yang akan berdialog, memperlajari akar konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia mulai dari konflik di Afrika Tengah, Semenanjung Balkan, kawasan Thailand selatan, Filipina selatan, dan Indonesia yakni Aceh dan Maluku.

Friday, 21 November 2014, 05:12 WIB

 

Lulusan Madrasah Mampu Hadapi Globalisasi

Written by: Redaktur

Batam - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai kualitas yang dimiliki lulusan Madrasah Aliyah akan mampu bersaing pada era globalisasi seperti lulusan lembaga pendidikan lain.

"Kualitas lulusan Madrasah Aliyah sudah sangat baik. Mereka akan mampu menghadapi era globalisasi," kata dia usai meletakkan batu pertama pembangunan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) di Batam, Sabtu (15/11).

Ia mengatakan, kondisi pendidikan di lembaga pendidikan berbasis agama khususnya madrasah aliyah sudah berubah dan mengalami kemajuan.

"Mereka terbukti bisa menguasai ilmu pengetahuan seperti yang diajarkan pada lembaga pendidikan lain. Bahkan pada sejumlah kegiatan mengungguli siswa-siswi sekolah umum. Selain itu juga memiliki pemahaman agama yang baik," katanya.

Lukman mengakui bahwa dulu pendidikan di madrasah terkesan terbelakang dan statis jika dibanding lembaga pendidikan umum.

Namun keluarnya Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sudah merubah kesan keterbelakangan sekolah madrasah.

"Sejauh itu semua sudah diberikan kesamaan. Sehingga madrasah mampu meningkatkan kualitas dan tidak lagi terbelakang," kata dia.

Lukman mengatakan terus akan meningkatkan sekolah negeri berbasis agama agar selain bisa menguasai ilmu pengetahuan, juga ada nilai-nilai ketaqwaan dan keimanan pada generasi muda Indonesia.

MAN Insan Cendekia adalah sekolah yang didirikan oleh Presiden RI Ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie melalui BPPT yang menerapkan prinsip keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan iman dan taqwa.

Sekolah yang sama, sebelumnya juga sudah didirikan di Serpong Tangerang, Gorontalo, Jambi, Riau, Pekalongan, Jawa Tengah dan Aceh.

Kegiatan peletakan batu pertama sekolah tersebut juga dihadiri sejumlah petinggi Kementerian Agama, Gubernur Kepri, dan Wali Kota Batam.

Penulis: /FQ | Sumber:Antara

Minggu, 16 November 2014 | 02:32

Page 38 of 185

  • 33
  • 34
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • 40
  • 41
  • 42

Toko Buku

flyer buku cet ke 15

Pesan Langsung di Sini. Tersedia di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.