SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI
PADA PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW
DI ISTANA NEGARA
JAKARTA, 2 JANUARI 2015


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ وَعَلَى اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ أمَّا بَعْدُ

 

Yang terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo;
Yang kami hormati Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla;
Yang kami hormati Pimpinan dan Anggota Lembaga Negara;
Yang Mulia Para Duta Besar dan Perwakilan Negara-Negara Sahabat;
Yang kami hormati Para Menteri Kabinet Kerja;
Yang kami hormati Para Alim Ulama, hadirin dan hadirat yang berbahagia.


Uraian hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW baru saja disampaikan oleh Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beliau telah menyuguhkan paparan tentang prinsip dan profesionalitas kerja Rasulullah SAW dalam membangun mental umat dan tatanan sosial yang kokoh dan bermartabat. Paparan itu semakin menegaskan bahwa kehadiran Rasulullah SAW sebagai utusan Allah SWT memberikan perubahan bagi peradaban dunia, sekaligus membawa rahmat bagi alam semesta.

Bapak Presiden dan hadirin yang saya hormati,
Misi kenabian Muhammad SAW yang paling utama adalah menyempurnakan akhlak mulia, sebagaimana sabda Beliau; ”Aku diutus oleh Allah semata-mata untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Akhlak adalah kunci pokok bagi tegaknya panji-panji kehidupan umat manusia. Suatu pembelajaran penting yang kita terima dari Nabi Muhammad SAW adalah bahwa Beliau memulai segala sesuatunya dari diri sendiri. Sabda Nabi SAW yang populer, adalah: “Ibda bi nafsika”, mulailah dari dirimu sendiri.

Nabi menyatakan demikian karena memahami bahwa perubahan sosial tidak akan terjadi tanpa perubahan kultural, dan perubahan kultural mustahil terjadi tanpa perubahan individual. Boleh dikatakan, perubahan individual adalah induk dari segala perubahan. Dan itu adalah teladan, demikian kita biasa menyebutnya.

Para sahabat dan kaum muslimin menerima ajaran Islam karena mereka melihat langsung kesesuaian antara kata dan perbuatan Rasul. Teladan pula yang menyebabkan banyak pihak menaruh hormat kepada beliau.

Alphonse de Lamartine, penyair Prancis menilai Nabi Muhammad lebih dari sekadar utusan Tuhan. Menurut dia, Muhammad adalah cermin kecerdasan filsuf, pembuat undang-undang yang bijak, pejuang yang gigih, dan pembaru dogma. Saking sulitnya menggambarkan, ia bahkan bertanya, “Adakah manusia yang lebih besar dari Muhammad?”

Edward Gibbon, sejarawan Inggris pada Abad 17 mengatakan, kesuksesan Muhammad disebabkan oleh kekuatan akhlak, bukan oleh pedang atau kekuasaan. Dalam bukunya 'The History of The Decline and Fall of The Roman Empire', Gibbon memberikan testimoni bahwa, “Memori Muhammad sangatlah besar dan kuat, sikapnya sederhana dan ramah, keputusannya jelas, cepat dan tegas. Dia memiliki keberanian untuk berpikir maupun bertindak.”

John Esposito, profesor dari Universitas Georgetown, Amerika Serikat, menganalisa bahwa salah satu sebab dari besarnya prasangka buruk dan pobia terhadap Islam di Barat adalah karena masyarakat belum banyak mengenal Muhammad dan hakikat ajaran Islam.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini hendaknya kita jadikan momentum untuk lebih mengenal sosok agung yang oleh Profesor Michael D Hart ditempatkan sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh di dunia.

Bapak Presiden dan hadirin yang berbahagia,

Dimensi yang paling penting dalam memperingati Maulid Nabi adalah bagaimana umat Islam bisa meneladani dan melanjutkan misi kerasulan Nabi Muhammad. Kita tahu bahwa beliau mempunyai misi mulia sebagai pembawa risalah dari Allah, yaitu menyampaikan Islam rahmatan lil ‘alamin untuk menjadi jalan hidup dan membawa keselamatan bagi seluruh alam.

Nabi Muhammad SAW telah meletakkan dasar-dasar Islam dalam berbagai perspektif dan kebutuhan zaman. Tugas-tugas tersebut masih harus dilanjutkan oleh umat Islam sampai kapan pun dan di mana pun.

Maka menjadi tugas umat Islam untuk melaksanakan dan melanjutkan misi beliau, baik misi vertikal sebagai hamba terhadap Tuhannya, mengajak manusia agar hanya menuhankan Tuhan dan beribadah kepada Allah; maupun misi horizontal sebagai khalifah (penerus misi nabi), mengajak umat agar memanusiakan manusia, dan agar mengerti fungsi hidupnya sebagai subyek perubahan ke arah kemajuan.

Dua dimensi dari misi profetik di atas hendaknya benar-benar dapat dihayati dan dijalankan oleh umat Islam hari ini. Mencintai Rasul bukan hanya sekedar merayakan hari kelahirannya, dan tidak cukup hanya merasa bangga karena telah menjadi umat Nabi Muhammad dan mendapat syafaatnya di hari kiamat, namun wujud dari cinta dan kebanggaan itu haruslah dibuktikan dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan larangannya, kemudian melanjutkan misi kenabiannya.

Bapak Presiden dan hadirin yang berbahagia,

Untuk itu, dalam suasana Maulid Nabi ini, marilah kita jadikan ajaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai acuan untuk lebih menggerakkan Revolusi Mental agar agenda-agenda nasional kita dan segala amal shalih yang kita laksanakan benar-benar membawa perubahan yang nyata dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Semoga kita semua dapat memetik hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW ini dalam rangka memantapkan tujuan kita hidup bernegara, menguatkan mental dan karakter bangsa menuju Indonesia hebat, maju, berdaulat, mandiri dan berkepribadian.

Akhirnya, kami berharap Bapak Presiden berkenan menyampaikan sambutan utama dalam Peringatan Maulid Nabi ini.

Sekian. Terima kasih.

Wallahul muwaffiq ila aqwamitthariq.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 2 Januari 2015

Menteri Agama RI

Lukman Hakim Saifuddin