TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi sejumlah orang yang menginginkan dirinya tetap menjadi Menteri Agama saat pemerintahan baru Oktober nanti. "Meskipun saya mengapresiasi, namun fokus saya bukan itu," ujar Lukman ketika dihubungi Tempo, Rabu, 30 Juli 2014. (Baca di sini: Ribka Ingin Jadi Menkes, Beredar Petisi Penolakan)
Menurut Lukman, saat ini dia fokus pada tugas dan fungsi sebagai Menteri Agama, sehingga pemerintahan ke depan tidak harus menanggung beban kerja yang belum selesai. "Tapi, kalau memang masih dipercaya, itu namanya takdir," tuturnya. (Baca: Diusulkan Jadi Menteri Kesehatan, Ribka Tunggu Sikap Jokowi)
Salah satu keinginan Lukman adalah adanya persamaan definisi posisi hilal ketika menentukan awal Ramadan dan awal Syawal. Jadi, ke depannya tak ada lagi perbedaan awal puasa dan Lebaran, seperti yang kerap terjadi selama ini. (Baca: Menteri Agama, Menteri Pertama yang Diterima ICW)
Lukman sebelumnya juga bertekad memperbaiki pelayanan ibadah haji. Dia bahkan menjadi menteri pertama yang datang ke lembaga pegiat antikorupsi, Indonesia Corruption Watch (ICW), untuk berkonsultasi soal penyelenggaraan haji.
Sebelumnya, juru bicara Jusuf Kalla, Poempida Hidayatulloh, menyampaikan kriteria Menteri Agama, yang secara umum harus disegani oleh semua kelompok agama. Tak hanya itu, sosok Menteri Agama juga harus bisa diterima dengan baik oleh semua kelompok agama. Kriteria lain adalah kandidat menteri harus memiliki rekam jejak yang baik sebelumnya.
Jokowi Center dan Radio Jokowi membuka polling yang diberi nama Kabinet Alternatif Usulan Rakyat. Nama-nama para profesional atau politikus disodorkan untuk menjadi menteri pembantu presiden. Pada kolom Menteri Agama ditawarkan tiga nama: Azyurmadi Azra, Siti M. Mulia, dan Lukman Hakim Saifuddin.
TIKA PRIMANDARI | TEMPO.CO | Kamis, 31 Jul 2014
