Dalam rangka menjalin persahabatan bilateral dengan Parlemen Maroko, Wakil Ketua MPR RI, Lukman Hakim Saifuddin memimpin Delegasi MPR melakukan kunjungan muhibah ke Maroko pada tanggal 15-19 April 2013. Ikut dalam rombongan Delegasi tersebut Ketua Fraksi PKS, Tubagus Soenmandjaja Roekmandis, Ketua Fraksi PAN, Ibrahim Sakty Batubara, Sekretaris Fraksi PKB, Abdul Kadir Karding, serta Anggota Fraksi Partai Demokrat, Agus Bastian.
Dalam kunjungan kehormatan tersebut, Delegasi MPR diterima oleh Ketua Majelis Rendah (Majlis Al-Nuwab / House of Representatives), Y.M. Karim Ghellab dan Ketua Majelis Tinggi (Majlis Al-Mustasharin / Assembly of Councillors), Y.M. Mohamed Cheikh Biadillah, dan bertemu dengan Perdana Menteri Maroko, Y.M. Abdelilah Benkirane, yang tidak saja menyambut Delegasi MPR dengan penuh sukacita, tetapi juga mengundang Delegasi MPR dalam jamuan makan malam bersama Perdana Menteri Maroko.
Sambutan hangat Ketua Majelis Rendah, Ketua Majelis Tinggi serta Perdana Menteri Maroko untuk menerima Delegasi MPR secara langsung adalah bukti betapa jejak sejarah kedekatan hubungan RI-Maroko begitu membekas di benak bangsa Maroko. Sejarah mencatat, Presiden Soekarno adalah kepala negara pertama di dunia yang melakukan kunjungan resmi kenegaraan ke Maroko pasca kemerdekaan Maroko. Nama Soekarno sebagai pemimpin revolusi yang membangkitkan semangat kemerdekaan bangsa-bangsa kawasan Asia-Afrika kemudian diabadikan sebagai sebuah nama jalan di Maroko : Rue Soekarno.
Ketua Delegasi MPR, Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk menjaga, memelihara dan meningkatkan hubungan baik yang telah terjalin melalui peran lembaga perwakilan kedua negara. Kunjungan ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi optimalisasi kerjasama yang lebih nyata dalam berbagai bidang.
Disadari bersama, baik oleh Indonesia maupun Maroko, bahwa kedekatan hubungan diplomatik kedua negara belum dimanfaatkan secara optimal dalam bentuk kerjasama bilateral, terutama dalam bidang ekonomi/perdagangan. Seiring dengan penguatan demokrasi di Maroko, peran parlemen Maroko dalam menentukan kehidupan ketatanegaraan di Maroko semakin signifikan. Dalam konteks ini, kerjasama antar parlemen tentunya akan mendorong peningkatan kerjasama bilateral kedua negara di berbagai bidang, serta mengatasi berbagai kendala yang ada. Menyikapi hal ini, pihak Parlemen dan Pemerintah Maroko sepakat perlunya penyesuaian berbagai regulasi perdagangan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi kedua negara.
Sebelum bertolak ke tanah air, Delegasi MPR juga berkesempatan melakukan pertemuan dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Maroko, termasuk Ketua PPI Maroko. Dalam tatap muka dan dialog dengan mahasiswa Indonesia, rombongan Delegasi MPR menerima berbagai aspirasi dan permasalahan yang dihadapi, di antaranya masalah adaptasi pada sistem pendidikan dan yang paling utama adalah masalah keterbatasan pemberian beasiswa bagi mahasiswa Indonesia di Maroko.
Menanggapi hal tersebut, Lukman Hakim Saifuddin menyarankan agar mahasiswa Indonesia bersikap arif dan bijaksana serta adaptif dalam menyikapi perbedaan sistem pendidikan di Maroko. Sedangkan untuk permasalahan beasiswa, akan diteruskan kepada Kementerian Agama RI dan komisi terkait untuk mendapatkan penanganan. Lukman juga mengingatkan bahwa belajar di Maroko adalah sebuah kesempatan langka yang tak dimiliki banyak pelajar Indonesia. Maka mahasiswa Indonesia di Maroko perlu mensyukurinya dengan penuh tanggungjawab, yakni melalui peningkatan prestasi belajar dengan selalu menjaga nama baik bangsa dan negara tercinta.
Selasa, 23/04/2013 16:24
MPR RI
