Medan-- Pagelaran wayang kulit yang berlangsung di Medan, Sabtu malam (5/5), cukup semarak. Para penggemar wayang dari kota “Ayam Kinantan”  dan  juga dari luar ibu kota Provinsi Sumatra Utara itu sejak sore hari hingga menjelang tengah malam terus berdatangan ke Lapangan Benteng, tempat pagelaran wayang itu berlangsung.

Karena besarnya animo masyarakat Sumatra Utama, khusus warga Pujasera (putra Jawa kelahiran Sumatra) hingga sekitar 400 tempat duduk yang disediakan pihak panitia  tak mampung menampung penonton. Mereka kebanyakan dalam menggunakan kendaraan sepeda motor, dan juga tidak sedikit menggunakan bentor (becak motor). Diantara para pentonton itu tampak  lima anggota MPR, yaitu: Rahmat Shah (Kelompok DPD), Ruhut Sitompul (Fraksi Partai Demokrat), Yasonna H. Laoly (PDI Perjuangan), Anshori Siregar (PKS), dan Mardiana Indraswati (PAN). Selain itu hadir juga Kepala Biro Keuangan MPR Suryani, dan beberapa pejabat Pemrov Sumatra Utara.

Pementasan wayang dengan lakon “Wahyu Makutharama” ini dibuka oleh Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin, ditandai penyerahan tokoh wayang Arjuna kepada dalang Ki Waseno Slenk dari Solo. Setelah sebelumnya sambutan dari Plt. Gubernur Sumatra Utara Gatot Pujo Nugoro dibacakan Asisten Bidang Pemerintahan Hasiholan Silaen.

Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutannya menyatakan, pagelaran wayang kulit Wahyu Makutharama ini memberikan nilai-nilai keutamaan terkait karakter kepemimpinan. “Kita sadari bersama, bangsa Indonesia membutuhkan sosok yang tidak sekedar memberi janji, namun dapat melakukan karya nyata bagi masyarakat,” katanya.

Wahyu Makutharama berisi ajaran Hastabrata, yaitu sifat kepemimpinan yang harus dipegang oleh seorang pemimpin. Menurut Lukman Hakim, ini ajaran penting yang ingin disampaikan nenek moyang kita. Ke delapan watak kepempinan itu adalah: surya/ matahari, sebagai pemberi kekuatan dan penghidupan bagi rakyat.

Lalu, candra/bulan, sebagai pemberi semangat dan harapan kepada rakyat: kartika/ bintang, sebagai pemberi pedoman arah langkah masa depan rakyat; angkasa/langit, sebagai tempat berkeluh kesah dan menerima aspirasi rakyat;  maruta/angin, sebagai sosok yang selalu ada bersama rakyat dalam mengisi ruang publik.

Selanjutnya, laut, sebagai pemberi kesejukan dan kedamaian bagi rakyat; dahana/ api, sebagai sosok yang tegas, adil, dan berwibawa dalam menegakkan hukum; dan bumi/ tanah, sebagai sosok yang teguh, murah hati, dan pemelihara kehidupan rakyat.

Nilai luhur ajaran Hastabrata ini memiliki korelasi makna dengan nilai-nilai 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu: Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Korelasi makna yang kami maksud ialah tekad dan kesungguhan dari upaya kita dalam mewujudkan kepemimpinan bangsa yang gigih membela kepentingan rakyat,” ujar Lukman Hakim.

Sehubungan dengan itu, pimpinan MPR dari unsur Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini berharap, semoga nilai-nilai luhur berbangsa dan bernegara -- melalui pagelaran wayang dengan judul Wahyu Makutharama ini -- dapat bermanfaat untuk kita semua.

Seperti juga harapan Ki Warseno Slenk, sang dalang, bahwa Wahyu Makutharama ini sama dengan 4 Pilar utama berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, yang harus menjadi pegangan para pemimpin, sehingga terwujudnya masyarakat yang aman, tenteram, dan sejahtera.

MPR RI, Sabtu, 05/05/2012 23:57